Papua – Ketua Lembaga Masyarakat Adat (LMA) Kabupaten Sarmi, Frans Sawen, mengecam keras pembunuhan terhadap tiga Orang Asli Papua (OAP) di Kabupaten Yahukimo yang diduga dilakukan oleh kelompok Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat–Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM).
Menurutnya, tindakan kekerasan yang menghilangkan nyawa warga sipil merupakan pelanggaran terhadap nilai-nilai kemanusiaan dan tidak dapat dibenarkan dalam kondisi apa pun.
Frans menyampaikan duka cita yang mendalam kepada keluarga para korban. Ia berharap keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan dan kekuatan dalam menghadapi musibah tersebut.
“Kami atas nama masyarakat adat Kabupaten Sarmi menyampaikan belasungkawa yang mendalam kepada keluarga korban. Peristiwa ini merupakan tragedi kemanusiaan yang tidak boleh terus berulang di Tanah Papua. Tidak ada alasan yang dapat membenarkan tindakan kekerasan terhadap masyarakat sipil,” ujar Frans Sawen.
Ia juga meminta aparat penegak hukum mengusut tuntas kasus tersebut secara profesional, objektif, dan transparan agar seluruh pihak yang bertanggung jawab dapat diproses sesuai ketentuan hukum yang berlaku.
“Pelaku harus diproses sesuai hukum tanpa pandang bulu. Penegakan hukum yang tegas menjadi langkah penting untuk memberikan rasa keadilan kepada keluarga korban sekaligus menjaga kepercayaan masyarakat terhadap negara dalam melindungi setiap warga,” tegasnya.
Selain itu, Frans mengajak seluruh elemen masyarakat Papua untuk tidak mudah terprovokasi oleh berbagai informasi yang berpotensi memicu konflik baru. Menurutnya, keamanan dan kedamaian hanya dapat diwujudkan melalui kebersamaan, dialog, serta penghormatan terhadap nilai-nilai kemanusiaan.
“Kami mengimbau seluruh masyarakat agar tetap tenang, tidak terpancing provokasi, dan bersama-sama menjaga situasi kamtibmas tetap kondusif. Papua membutuhkan kedamaian agar pembangunan dan kesejahteraan masyarakat dapat terus berjalan,” katanya.
Frans juga mengajak seluruh tokoh adat, tokoh agama, tokoh pemuda, serta seluruh komponen masyarakat untuk bersatu menjaga persaudaraan dan menolak segala bentuk kekerasan yang dapat mengancam keselamatan masyarakat sipil.
“Marilah kita jadikan peristiwa ini sebagai pengingat bahwa nyawa manusia adalah yang paling berharga. Sudah saatnya seluruh elemen masyarakat bergandengan tangan menciptakan Papua yang aman, damai, dan sejahtera melalui penyelesaian setiap persoalan dengan cara-cara yang bermartabat dan sesuai hukum,” tutupnya.(rd)


























